Selasa, 05 Mei 2020


Aku Punya Guru


Aku punya guru, namanya Ibuku
Dia telah mengajarkanku apa arti kekhawatiran disaat aku sama sekali tidak mengkhawatirkan orang lain.
Dia telah mengajariku apa arti kasih sayang dengan kedermawanan disaat aku tak peka dengan kondisi sosial sekitar.
Dia mengajariku apa artinya sabar dengan proses disaat aku belum bisa menuruti perintahnya :'

Aku punya guru, namanya Ayahku
Dia mengajariku apa arti keikhlasan disaat ia hanya membawa pulang uang 1000 rupiah dan ketika anaknya ingin jajan, dia kasih semua uang hasil keringatnya seharian itu untuk jajan anaknya, tanpa memikirkan dirinya mau makan apa besok.
Dia mengajariku apa namanya keberanian disaat aku tak percaya diri ketika pergi ketempat asing bagiku, dia ajarkan cara membaca peta, jalan dan situasi.

Aku punya guru, namanya Adik Perempuanku
Dia mengajariku apa artinya besar hati ketika kakaknya hanya menyuruh-nyuruh dan merasa lebih benar darinya.
Dia mengajariku apa artinya privasi ketika aku selalu kepo tentang dirinya dan masalah hidupnya.
Dia mengajariku bahwa perkelahian kami adalah bahasa cinta yang kami ekspresikan ketika kami  berdekatan.

Aku punya guru, namanya Adik Laki-lakiku
Dia mengajariku menaruh banyak perhatian padanya ketika dia masih sangat belia.
Dia mengajariku bagaimana menenangkannya ketika dia menangis.
Dia mengajariku bagaimana aku bisa merespon sikap kaku orang lain dengan guyonan-guyonan kecil.

Aku punya guru, namanya Sepupu Perempuanku
Dia mengajariku bagaimana ketika semarah apapun kamu dengan saudaramu, kamu harus bisa memaafkannya bahkan dalam waktu kurang dari 1 hari saja. Seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kita.
Dia mengajariku apa arti luasnya hati ketika dimintai suatu pertolongan tanpa mengharapkan imbalan.

Aku punya guru, namanya Sahabatku
Dia mengajariku bagaimana caranya aku bisa buat orang pendiam tertawa cekikikan.
Dia mengajariku bagaimana caranya bisa mengerjakan sesuatu dengan bersih ketika saat itu aku masih sangat berantakan.
Dia mengajariku bagaimana bisa menerima kekurangan orang lain yang pelupa, pecicilan dan suka buat hal tak terduga ketika bersama.

Aku punya guru, namanya Temanku
Dia mengajariku apa artinya solid walaupun dengan orang yang tidak tahu apa-apa tentangmu.
Dia mengajariku apa artinya berkorban mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan dirinya.
Dia mengajariku pentingnya menebar manfaat terhadap sekitar dan terus berkarya bagaimana pun keadaannya.

Aku punya guru, namanya Teman Divisiku
Dia mengajariku apa arti sabar menghadapi orang yang banyak tanya, moody dan egois ketika dia memimpin, bahkan menjadi anak buah.
Dia mengajariku bagaimana aku harus berusaha untuk dekat selalu dengannya dengan cara yang tulus, sabar, dan ulet tanpa dibuat-buat.
Dia mengajariku bagaimana aku harus berusaha membuat ini itu sendiri tanpa bergantung kepada orang lain ketika aku ketergantungan dengan orang lain.

       Mereka semua adalah guru-guru kehidupanku, yang telah mengajariku menjadi orang yang lebih baik. Disaat aku egois, mudah marah, moody, berantakan, pecicilan, tidak peka sosial. Mereka menerimaku apa adanya, mencoba perlahan menasehatiku, baik dengan kata atau suatu makna tersirat lewat perilakunya. Sampai detik ini, aku masih belajar dari mereka, bahwa aku harus selalu mengelola emosiku dalam keadaan positif. Walapun penyakit ini belum sembuh total dan masih sering kumat, mereka tetap sabar menghadapi aku. Hebat ya mereka. Terimakasih guru kehidupanku. Semoga Allah selalu membalas kesabaran kalian terhadap sikapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar