Senin, 14 Oktober 2019

Meneliti Kepribadian Aisyah R.A


     Tulisan ini diambil dari buku yang pernah saya baca berjudul : Aisyah R.A: The Greatest Woman in Islam karya Sulaiman An-Nadawi.
     Ummul Mukminin Aisyah adalah putri dari sahabat Nabi SAW, Abu Bakar As-Shiddiq. Ia menikah dengan Rasullullah SAW pada usia yang sangat sangat muda, yaitu 7 tahun. Tetapi ia baru tinggal serumah dengan Nabi SAW ketika ia berumur 9 tahun, pada bulan Syawal setelah peristiwa Perang Badar, tahun ke 2 Hijriah.

Kepribadian Aisyah R.A

     Aisyah sang Ummul Mukminin, atau yang kita kenal dengan sebutan Humaira, mempunyai kepribadian yang zuhud dan qonaah. Ia mendapatkan didikan dari Nabi SAW sejak usia emasnya. Orang yang diutus sebagi penyempurna akhlak dan menjadi rahmatan lil alamin. Karena sebab itulah, Aisyah menempati urutan tertinggi di bidang akhlak dan etika. Ia juga orang yang sangat menyukai ibadah, sederhana, baik dan penuh kasih sayang.
     Aisyah merupakan lambang kesucian rumah nubuwat, istri yang agung, dan kaki Rasullullah yang paling tinggi. Dia sangat taat kepada suaminya, mengerjakan hal-hal yang menyenangkan dan membuat suaminya ridha kepadanya. Ia selalu menjaga diri dari sikap ghibah, yaitu tidak membicarakan kejelekkan orang lain. Bahkan Hassan Ibn Tsabit menyandungkan syair untuknya :

                          "Suci, tenang, dan tak meragukan,
                           Tak pernah berghibah dan tidak memakan daging orang-orang yang suci"
     
Aisyah jarang menerima hadiah dari orang-orang. Jika ia menerima hadiah, dia akan membalasnya dengan jarak waktu yang tak lama. Aisyah juga memiliki sifat keras kepala dan tak mau mengalah. Sifat ini sangat kuat dihadapan orang-orang. Tapi berubah menjadi sikap yang sangat manja ketika dihadapan Rasulullah SAW. Contoh sikap keras kepala Aisyah dihadapan Nabi, bila ia marah ia akan bersumpah dengan "Demi Tuhan Ibrahim" bukannya "Demi Tuhan Muhammad" ini dapat dipahami sebagai konteks kemanjaan seorang istri kepada suami. Walaupun Aisyah sangat keras kepala, cemburu, tak mau mengalah, tapi ia dapat bersikap sangat adil kepada semua orang. Gabungan dari sikap tak mau mengalah dan adil ini menjadi sifat unik yang dimiliki oleh Aisyah R.A. 
Aisyah adalah sosok yang pemberani, kokoh, tegar dan tidak pengecut. Dia sering berjalan menuju pekuburan Baqi' ditengah malam tanpa takut dan ragu. Dia juga sering ikut terjun ke medan perang. Keikutsertaan Aisyah dalam Perang Jamal beserta pasukan tentara juga bukti lain dari keberanian dan sikap heroiknya. Sifat murah hati dan suka memberi yang dimilikinya juga menjadi permata mahal dalam dirinya. Sifat ini ia warisi dari sikap ayahandanya yang telah mendidiknya dengan akhlak seperti ini. Saudarinya, Asma' binti Abu Bakar As-Shiddiq juga memiliki sifat yang sama, sangat mulia dan baik hati. Abdullah ibn Zubair berkata, “Aku tidak pernah melihat dua orang perempuan yang lebih baik daripada Aisyah dan Asma”.
Aisyah juga orang yang gemar beribadah. Dia sangat rajin mengerjakan ibadah-ibadah Sunnah. Seluruh waktunya diisi oleh zikir dan tasbih. Dan dia tidak pernah meninggalkan solat dhuha. Dia juga sangat menjaga dirinya dari hal-hal remeh. Bahkan suatu ketika, Aisyah pernah mendengar kabar bahwa keluarganya memiliki permainan dadu dirumahnya. Dia langsung mengirim surat kepada keluarganya dan berkata “Jika kalian tidak membuangnya keluar, maka aku akan mengeluarkan kalian dari rumahku”. Ia mengecam meraka karena hal itu.
Aisyah sangat memperhatikan masalah hijab. Hal ini semakin tegas dengan turunnya perintah untuk berhijab. Komitmen Aisyah juga dibuktikan dengan tetap berhijab dihadapan Ishaq, seorang thabi’i yang buta. Syariat Islam juga tidak mewajibkan berhijab didepan orang mati, tetapi Aisyah juga tetap berjaga-jaga. Dia tidak mau masuk kedalam kamarnya tanpa hijab ketika Umar R.A telah dikuburkan disitu. Aisyah berkata, “Aku masuk ke bilikku dimana Rasul dan ayahku dikubur tanpa harus mengenakan hijab. Namun setelah Umar dikuburkan disitu, demi Allah, aku tidak akan masuk kesitu kecuali dengan berhijab, sebab aku malu kepada Umar R.A”.
Kedudukan ilmu Aisyah juga sangatlah tinggi. Ia memiliki kemampuan memahami dan menyimpulkan hukum. Tak ada yang dapat menandingi kecerdasan dan ketangkasan Aisyah R.A kecuali beberapa sahabat saja. Aisyah adalah orang yang paling ahli dibidang fikih, syair, kedokteran dan sejarah Arab beserta keturunannya. Beberapa Muhadditsin meriwayatkan suatu hadis, “Ambillah separuh agamamu dari si Humaira ini”. Hadis ini merupakan bukti tentang kedudukan Aisyah yang sangat tinggi. Meski hadis ini tidak shahih, tapi maknanya benar. Nama Aisyah juga berhak untuk disebut sebagai salah satu ulama dikalangan para sahabat. Seperti Umar al-faruq, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Mas’ud dan Abdullah ibn Abbas.

20 komentar:

  1. Teliti kepribadian Siti Khadijah juga dong..
    Beliau kan istri pertama Rasulullah :)

    BalasHapus
  2. Ya Allah semoga para muslimah bisa menirukan kepribadian Sayyidatina Aisyah ❤

    BalasHapus
  3. Maasyaa Allah.. teladannya para muslimah ♡

    BalasHapus
  4. Mā syā Allāh, keep hammāsah beb❤️

    BalasHapus
  5. Tabarokalloh... semoga sen
    natiasa istiqomah utk dakwah media nya yaa..aamiin

    BalasHapus
  6. Seandainya semua wanita memiliki ahlaq seperti aisyah yang taat dan patuh pada suaminya

    BalasHapus
  7. Semoga terlahir kembali, wanita-wanita seperti Aisya R.A..

    BalasHapus
  8. MasyaAllah, bagus nih topiknya aku sukaaa

    BalasHapus
  9. Masyaallah semoga aku bisa memiliki akhlak seperti aisyah

    BalasHapus