Meneliti Kepribadian Aisyah R.A
Tulisan ini diambil dari buku yang pernah saya
baca berjudul : Aisyah R.A: The Greatest Woman in Islam karya
Sulaiman An-Nadawi.
Ummul Mukminin Aisyah adalah putri dari
sahabat Nabi SAW, Abu Bakar As-Shiddiq. Ia menikah dengan Rasullullah SAW pada
usia yang sangat sangat muda, yaitu 7 tahun. Tetapi ia baru tinggal serumah
dengan Nabi SAW ketika ia berumur 9 tahun, pada bulan Syawal setelah peristiwa
Perang Badar, tahun ke 2 Hijriah.
Kepribadian Aisyah R.A
Aisyah sang Ummul Mukminin, atau yang kita
kenal dengan sebutan Humaira, mempunyai kepribadian yang zuhud dan qonaah. Ia
mendapatkan didikan dari Nabi SAW sejak usia emasnya. Orang yang diutus sebagi
penyempurna akhlak dan menjadi rahmatan lil alamin. Karena sebab itulah, Aisyah
menempati urutan tertinggi di bidang akhlak dan etika. Ia juga orang yang sangat
menyukai ibadah, sederhana, baik dan penuh kasih sayang.
Aisyah merupakan lambang kesucian rumah nubuwat,
istri yang agung, dan kaki Rasullullah yang paling tinggi. Dia sangat taat
kepada suaminya, mengerjakan hal-hal yang menyenangkan dan membuat suaminya
ridha kepadanya. Ia selalu menjaga diri dari sikap ghibah, yaitu tidak
membicarakan kejelekkan orang lain. Bahkan Hassan Ibn Tsabit menyandungkan syair
untuknya :
"Suci, tenang, dan tak
meragukan,
Tak pernah berghibah dan tidak
memakan daging orang-orang yang suci"
Aisyah jarang menerima hadiah dari orang-orang.
Jika ia menerima hadiah, dia akan membalasnya dengan jarak waktu yang tak lama.
Aisyah juga memiliki sifat keras kepala dan tak mau mengalah. Sifat ini sangat
kuat dihadapan orang-orang. Tapi berubah menjadi sikap yang sangat manja ketika
dihadapan Rasulullah SAW. Contoh sikap keras kepala Aisyah dihadapan Nabi, bila
ia marah ia akan bersumpah dengan "Demi
Tuhan Ibrahim" bukannya "Demi
Tuhan Muhammad" ini dapat dipahami sebagai konteks kemanjaan seorang
istri kepada suami. Walaupun Aisyah sangat keras kepala, cemburu, tak mau
mengalah, tapi ia dapat bersikap sangat adil kepada semua orang. Gabungan dari
sikap tak mau mengalah dan adil ini menjadi sifat unik yang dimiliki oleh
Aisyah R.A.
Aisyah adalah sosok yang pemberani, kokoh, tegar
dan tidak pengecut. Dia sering berjalan menuju pekuburan Baqi' ditengah malam
tanpa takut dan ragu. Dia juga sering ikut terjun ke medan perang.
Keikutsertaan Aisyah dalam Perang Jamal beserta pasukan tentara juga bukti lain
dari keberanian dan sikap heroiknya. Sifat murah hati dan suka memberi yang
dimilikinya juga menjadi permata mahal dalam dirinya. Sifat ini ia warisi dari
sikap ayahandanya yang telah mendidiknya dengan akhlak seperti ini. Saudarinya,
Asma' binti Abu Bakar As-Shiddiq juga memiliki sifat yang sama, sangat mulia
dan baik hati. Abdullah ibn Zubair berkata, “Aku tidak pernah melihat dua orang
perempuan yang lebih baik daripada Aisyah dan Asma”.
Aisyah juga orang yang gemar beribadah. Dia sangat rajin mengerjakan ibadah-ibadah Sunnah. Seluruh waktunya diisi oleh zikir dan tasbih. Dan dia tidak pernah meninggalkan solat dhuha. Dia juga sangat menjaga dirinya dari hal-hal remeh. Bahkan suatu ketika, Aisyah pernah mendengar kabar bahwa keluarganya memiliki permainan dadu dirumahnya. Dia langsung mengirim surat kepada keluarganya dan berkata “Jika kalian tidak membuangnya keluar, maka aku akan mengeluarkan kalian dari rumahku”. Ia mengecam meraka karena hal itu.
Aisyah sangat memperhatikan masalah hijab. Hal
ini semakin tegas dengan turunnya perintah untuk berhijab. Komitmen Aisyah juga
dibuktikan dengan tetap berhijab dihadapan Ishaq, seorang thabi’i yang buta.
Syariat Islam juga tidak mewajibkan berhijab didepan orang mati, tetapi Aisyah
juga tetap berjaga-jaga. Dia tidak mau masuk kedalam kamarnya tanpa hijab
ketika Umar R.A telah dikuburkan disitu. Aisyah berkata, “Aku masuk ke bilikku dimana Rasul dan ayahku dikubur tanpa harus
mengenakan hijab. Namun setelah Umar dikuburkan disitu, demi Allah, aku tidak
akan masuk kesitu kecuali dengan berhijab, sebab aku malu kepada Umar R.A”.
Kedudukan ilmu Aisyah juga sangatlah tinggi. Ia
memiliki kemampuan memahami dan menyimpulkan hukum. Tak ada yang dapat
menandingi kecerdasan dan ketangkasan Aisyah R.A kecuali beberapa sahabat saja.
Aisyah adalah orang yang paling ahli dibidang fikih, syair, kedokteran dan
sejarah Arab beserta keturunannya. Beberapa Muhadditsin
meriwayatkan suatu hadis, “Ambillah
separuh agamamu dari si Humaira ini”. Hadis ini merupakan bukti tentang
kedudukan Aisyah yang sangat tinggi. Meski hadis ini tidak shahih, tapi maknanya
benar. Nama Aisyah juga berhak untuk disebut sebagai salah satu ulama
dikalangan para sahabat. Seperti Umar al-faruq, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah
ibn Mas’ud dan Abdullah ibn Abbas.

Teliti kepribadian Siti Khadijah juga dong..
BalasHapusBeliau kan istri pertama Rasulullah :)
Ya Allah semoga para muslimah bisa menirukan kepribadian Sayyidatina Aisyah ❤
BalasHapuskerenn sall
BalasHapusMaasyaa Allah.. teladannya para muslimah ♡
BalasHapusMā syā Allāh, keep hammāsah beb❤️
BalasHapusTabarakallah MaasyaaAllah.
BalasHapusTabarokalloh... semoga sen
BalasHapusnatiasa istiqomah utk dakwah media nya yaa..aamiin
masyaallah dek acha ♡
BalasHapusSeandainya semua wanita memiliki ahlaq seperti aisyah yang taat dan patuh pada suaminya
BalasHapusMasyaAllah,keren sa.
BalasHapusSemoga terlahir kembali, wanita-wanita seperti Aisya R.A..
BalasHapusMasyaAllah, bagus nih topiknya aku sukaaa
BalasHapusLanjutkan!
BalasHapusMasyaallah semoga aku bisa memiliki akhlak seperti aisyah
BalasHapusNtaps
BalasHapusSangat informatif😍😍😍
BalasHapusMasyaaaa Allaaah
BalasHapus💞💞💞💞💞💞
BalasHapusAisyah is my role mode
BalasHapus👍👍👍
BalasHapus